Aku Bukan Pelakor

  • Whatsapp
Ilustrasi (Dok Istimewa).

Ininnawa.id – “Kamu mengaku saja, dasar wanita penggoda,” sahut salah satu wanita tambun yang berdiri di belakangku sambil sesekali menjambak rambutku.

“Pelakor mana ada yang mau ngaku,” sahut wanita di sebelahnya.

Baca Juga

Aku diseret dan dipaksa menuju rumah pak RT.

Di rumah itu aku didudukkan di sebuah kursi dan mereka berdiri mengelilingiku seakan aku adalah mangsanya yang ingin mereka terkam.

Pak RT tidak mampu membendung luapan emosi mereka, semua cacian, sumpah serapah keluar dari mulut mereka tanpa aku diberi kesempatan untuk menjelaskan.

“Berikan saya kesempatan untuk menjelaskan, dan tolong hadirkan Kak Deri disini juga agar jelas semua,” kataku sambil menahan tangis.

“Alaaah… mana ada pelakor mau ngaku? Dasar Wanita murahan,”

Mendengar kalimat itu, air mataku sudah tidak terbendung lagi. Aku menangis sesenggukan, tak ada yang peduli selain wanita paruh baya yang kemungkinan beliau istri pak RT.

“Aku butuh mama, andai mama ada di sini pasti akan membelaku,” bisikku dalam hati sambil terisak.

Kepalaku terasa berat, msemua gelap dan akhirnya pertahananku tumbang aku jatuh pingsan.

 

Rekomendasi